11.09.2012

Surat Buat Bunga si Bungoooo


Si Faza hanya tahu nama pendek dari beberapa temannya. Seperti Bunga, Olive, Dicki, Erwin dan teman teman yang lain. Meski terbilang tidak begitu lama juga sih mereka berteman. Setengah tahun.
Faza mengenal si Bunga dari temen mainnya, Olive, yang juga temen mainnya. Mereka mulai sering ketemu meski hanya pada acara tententu, seperti pembagian beras zakat dan pembagian daging hewan kurban.
Dari pertemuan itu lah mereke jadi keseringan main di tempat lain. Makan bareng, ngopi bareng, mandi bareng, tidur bareng, sampe nonton standup bareng. Ya, nonton standup merupakan kegiatan yang paling gahul karo menurut meraka bertiga. Bisa ngetawain anak orang itu wow banget. Bahkan, si Olive pernah ketawa ampe harus di bawa ke warung makan terdekat karna perutnya kelaparan. Beda cerita.
Akhir akhir ini Bunga sering mencurahkan isi hatinya sama Faza tentang mantan. Dia mengeluhkan kenapa mantan yang ia sayang dulu, sekarang balikan sama mantannya. Dan Bunga masih terlalu memikirkan itu. Galau mode lima.
Pernah suatu ketika Bunga tiba tiba menangis dan dengan refleksnya memeluk Faza yang kebetulan sudah direncanakan oleh penulis duduk di sebelahnya. Meja nomor 13. Lidah mertua café, tempat nongkrongnya anak durhaka, nongkrong di lidah mertua (bagian mana yang tidak anda pahami sebagai kejahatan kelamin?).
Waktu itu memang ada acara standup show kecil kecilan gitu lah yang diadakan salah satu komunitas di kota Jogja. Suasana rame banget, Nampak warna kuning menghiasi setiap sudut ruangan. Nampak sesekali mba mba pengater minuman sliwar sliwer mencari pemesan minumannya tadi.
Sebelum comic pertama naik panggung dan band acoustic membuka Bunga melihat mantannya juga datang di tempat yang sama, waktu yang sama dan jadwal yang sama dengan menggandeng mantannya dulu. Jleb. Seketika mood Bunga ilang. “Tolong balikin mood Bunga oy!!!”
“Gue ko jadi ga mood gini ya Za!” muka Bunga terlihat lesu.
“Kenapa? Kamu sakit?”
“Ga tahu, tiba tiba ga enak aja ni badan aku hatinya juga kale
Faza menyeruput teh manis pesanan Bunga. “Hey, itu minuman gue!!”, “Maap, ga fokus” Faza Cuma nyengir. Faza kembali mengambil minuman yang ada di mejanya, kali ini ga bakal salah ambil lagi. Kopi manis bertabur paku payung di atasnya. Nama minuman yang aneh seaneh café ini.
Band acoustic sudah naik panggung. Lagunya Paramore terdengar merdu mendesah gimaa gitu. Decode.
Comic pertama naik setelah dipanggil, namun tiba tiba apa yang terjadi ia justru naik atap! Fuck banget. Harusnya ia naik panggung, bukan naik atap. Kalo gini siapa yang salah. Yang nulis kan?!!
Oke cukstau.
Bunga masih terlihat lesu, tidak menampakkan keriangannya seperti biasa saat sedang menonton standup comedy. Kali ini ia masih murung melihat mantan pacarnya, orang yang dulu pernah ia sayang sekarang menggandeng tangan cewe lain. Backsound music sedih.
Faza masih asik dengan acara standupnya. Ia tertawa sambil ngakak jungkir balik tanpa memperhatikan orang yang ia tendang di samping meja dan orang yang ada di dekatnya, juwita malam, Bunga. Sesekali Faza mengajak Bunga untuk mengajaknya tertawa “Elo ga ketawa? Lucu banget, tau ga lo tadi beatnya si kampret ini”, sambil menunjuk comic di depan. Beat tentang mantan yang ga pake baju.
“Kenapa sih kita kalo ketemu mantan itu sering menghindar? Padahal mantan kan bukan setan atau mister Limbad yang harus ditakuti. Dulu aja yang ga pake baju kalo ketemu biasa biasa aja, nah sekarang kalo ketemu yang pake baju aja ko takut!” comic absurd ini melontarkan jokenya dengan act out yang pas dan tidak lebih.
Semua orang tertawa terbahak. Bahkan ada yang sampai di bawa ke rumah sakit karna rahang atas dan rahang bawahnya menyatu. Parah. Yang nulis ini goblok. rahang manusia emang nyatu bego!!!
10 menit berlalu dengan keriangan semua penonton. Semua seakan Nampak tak pernah berbuat berdosa telah dilahirkan di bumi ini, kecuali si Bunga. Ia masih murung. Comic berikutnya naik panggung. Faza kali ini memperhatikan Bunga. “Kamu kenapa sih dari tadi? Murung terus kerjaannya, kayaknya tadi masuk sini sama gue elo masih seger seger aja, ko tiba tiba jadi kaya uler makan ban mobil, jelek tahu muke lo kalo dilipet!”
Bunga tidak mau menjawab pertanyaan Faza.
“Za, cari tempat lain aja yuk!”
“Nah, ini baru dimulai acaranya, gimana sih lo?”
“Tapi gue udah ga mood di sini!”
“Baiklahkalo gitu, tapi mau kemana?”
Gue langsung meletakkan beberapa uang ribuan diatas meja yang ditindih gelas bekas minuman Faza. Bunga langsung menarik tangan Faza dan pergi meninggalkan lidah mertua café. Jalannya kencang melewati mantannya Bunga yang sedang ber asolole icik icik ehem dengan mantannya.
Wuussshhh…
Di depan café Bunga masih saja menoleh kea rah dalam. “Yuk, langsung aja!”
 “Kamu tadi bilang mood lo jelek! Ko bisa? Belum mandi ya mood lo? Makanya kalo mandi itu dua kali sehari pake sabun mandi jangan pake sabun colek!”
“Gue juga tahu kali Za…”
Di jalan.
Bunga memeluk erat Faza. Jogja malam ini mendukung banget suasanya buat bikin ftv. Banyak adegan absurtnya. Tak lama kemudian.
Bunga meminta untuk menepi. Dia memuali pembicaraan. Sedikit gugup. Oke rilex. Tenang. Santai. Tarik nafas. Siap?
“Gue tadi kentut, jadi pengen cepet cabut dan sekarang mau cari toilet umum. Lo tau ga di mana?”
“Toilet umum? Yah, di café tadi ka nada! Kampret lo ah”
“Ga mau. Toiletnya jorok di tempat tadi”
Perbincangan terhenti sejenak. Karena ternyata editor salah memasukkan scene.
Ini scene sebenarnya. Bekicot madu by Anang Batas. ß harusnya cekidot. Au ah.
“Tadi gue liat matan gue juga ke café itu, sama mantannya yang dulu. Dia balikan!”
“Ups.. Maaf”
“Gue sedih za. Lo tahu kan perasaan gue?” Bunga mulai menitihkan air mata.
Adegan romantic mulai disulut. Bunga memeluk Faza di pinggir jalan, mereka saling berpelukan. Faza mencoba menenangkan kondisi. Waktu itu jalan lumayan sepi. 11 12 (baca : sebelas dua belas. Red) lah sama ramenya. Sumpah ini absurd banget. Lebih absurd dari tournya si Kemal. Kenapa jadi ngomongin Kemal?
Malam semakin larut. Basane puitis banget kan.
Sejak kejadian itu. Bunga mulai berpikir dan sering mikir, kalo selama ini dia itu ga pernah mikir. Satu tambah dua sama dengan tiga, pilih aku apa dia hayo yang mana? Hasyeekk. Puisi tadi yang barusan dipersembahkan buat Bunga untuk mantannya dan pacarnya yang dulu juga mantannya yang balik lagi. Susah mencerna kata katanya? Yo wes.

Udah gitu aja ya Surat Buat Bunga. Ditunggu surat buat yang laen. Orang orang yang ada di sekitar gue (penulis) baik yang normal maupun yang di atas normal. Baik yang ada maupun tiada. Baik yang baik maupun yang kurang baik. Baik yang cowo maupun yang cewe. Baiklah kalo gitu #satuharisatucerita pamit. See u next time gue (penulis) pamit.

Tidak ada komentar: