Si Faza hanya tahu nama
pendek dari beberapa temannya. Seperti Bunga, Olive, Dicki, Erwin dan teman
teman yang lain. Meski terbilang tidak begitu lama juga sih mereka berteman. Setengah
tahun.
Faza mengenal si Bunga
dari temen mainnya, Olive, yang juga temen mainnya. Mereka mulai sering ketemu
meski hanya pada acara tententu, seperti pembagian beras zakat dan pembagian
daging hewan kurban.
Dari pertemuan itu lah
mereke jadi keseringan main di tempat lain. Makan bareng, ngopi bareng, mandi
bareng, tidur bareng, sampe nonton standup bareng. Ya, nonton standup
merupakan kegiatan yang paling gahul karo menurut meraka bertiga. Bisa
ngetawain anak orang itu wow banget. Bahkan, si Olive pernah ketawa ampe harus
di bawa ke warung makan terdekat karna perutnya kelaparan. Beda cerita.
Akhir akhir ini Bunga
sering mencurahkan isi hatinya sama Faza tentang mantan. Dia mengeluhkan kenapa
mantan yang ia sayang dulu, sekarang balikan sama mantannya. Dan Bunga masih
terlalu memikirkan itu. Galau mode lima.
Pernah suatu ketika Bunga
tiba tiba menangis dan dengan refleksnya memeluk Faza yang kebetulan sudah
direncanakan oleh penulis duduk di sebelahnya. Meja nomor 13. Lidah mertua
café, tempat nongkrongnya anak durhaka, nongkrong di lidah mertua (bagian mana
yang tidak anda pahami sebagai kejahatan kelamin?).
Waktu itu memang ada
acara standup show kecil kecilan gitu lah yang diadakan salah satu komunitas di
kota Jogja. Suasana rame banget, Nampak warna kuning menghiasi setiap sudut
ruangan. Nampak sesekali mba mba pengater minuman sliwar sliwer mencari pemesan minumannya tadi.
Sebelum comic pertama
naik panggung dan band acoustic membuka Bunga melihat mantannya juga datang di
tempat yang sama, waktu yang sama dan jadwal yang sama dengan
menggandeng mantannya dulu. Jleb. Seketika mood Bunga ilang. “Tolong balikin
mood Bunga oy!!!”
“Gue ko jadi ga mood
gini ya Za!” muka Bunga terlihat lesu.
“Kenapa? Kamu sakit?”
“Ga tahu, tiba tiba ga
enak aja ni badan aku hatinya juga kale”
Faza menyeruput teh
manis pesanan Bunga. “Hey, itu minuman gue!!”, “Maap, ga fokus” Faza Cuma
nyengir. Faza kembali mengambil minuman yang ada di mejanya, kali ini ga bakal
salah ambil lagi. Kopi manis bertabur paku payung di atasnya. Nama minuman yang
aneh seaneh café ini.
Band acoustic sudah naik
panggung. Lagunya Paramore terdengar merdu mendesah gimaa gitu. Decode.
Comic pertama naik setelah
dipanggil, namun tiba tiba apa yang terjadi ia justru naik atap! Fuck banget.
Harusnya ia naik panggung, bukan naik atap. Kalo gini siapa yang salah. Yang
nulis kan?!!
Oke cukstau.
Bunga masih terlihat
lesu, tidak menampakkan keriangannya seperti biasa saat sedang menonton standup
comedy. Kali ini ia masih murung melihat mantan pacarnya, orang yang dulu
pernah ia sayang sekarang menggandeng tangan cewe lain. Backsound music sedih.
Faza masih asik dengan
acara standupnya. Ia tertawa sambil ngakak jungkir balik tanpa memperhatikan
orang yang ia tendang di samping meja dan orang yang ada di dekatnya, juwita
malam, Bunga. Sesekali Faza mengajak Bunga untuk mengajaknya tertawa “Elo ga
ketawa? Lucu banget, tau ga lo tadi beatnya si kampret ini”, sambil menunjuk
comic di depan. Beat tentang mantan yang ga pake baju.
“Kenapa sih kita kalo
ketemu mantan itu sering menghindar? Padahal mantan kan bukan setan atau mister
Limbad yang harus ditakuti. Dulu aja yang ga pake baju kalo ketemu biasa biasa
aja, nah sekarang kalo ketemu yang pake baju aja ko takut!” comic absurd ini melontarkan
jokenya dengan act out yang pas dan tidak lebih.
Semua orang tertawa
terbahak. Bahkan ada yang sampai di bawa ke rumah sakit karna rahang atas dan
rahang bawahnya menyatu. Parah. Yang nulis ini goblok. rahang manusia emang
nyatu bego!!!
10 menit berlalu dengan
keriangan semua penonton. Semua seakan Nampak tak pernah berbuat berdosa telah
dilahirkan di bumi ini, kecuali si Bunga. Ia masih murung. Comic berikutnya
naik panggung. Faza kali ini memperhatikan Bunga. “Kamu kenapa sih dari tadi?
Murung terus kerjaannya, kayaknya tadi masuk sini sama gue elo masih seger
seger aja, ko tiba tiba jadi kaya uler makan ban mobil, jelek tahu muke lo kalo
dilipet!”
Bunga tidak mau menjawab
pertanyaan Faza.
“Za, cari tempat lain
aja yuk!”
“Nah, ini baru dimulai
acaranya, gimana sih lo?”
“Tapi gue udah ga mood
di sini!”
“Baiklahkalo gitu, tapi
mau kemana?”
Gue langsung meletakkan
beberapa uang ribuan diatas meja yang ditindih gelas bekas minuman Faza. Bunga langsung
menarik tangan Faza dan pergi meninggalkan lidah mertua café. Jalannya kencang
melewati mantannya Bunga yang sedang ber asolole icik icik ehem dengan
mantannya.
Wuussshhh…
Di depan café Bunga masih
saja menoleh kea rah dalam. “Yuk, langsung aja!”
“Kamu tadi bilang mood lo jelek! Ko bisa?
Belum mandi ya mood lo? Makanya kalo mandi itu dua kali sehari pake sabun mandi
jangan pake sabun colek!”
“Gue juga tahu kali Za…”
Di jalan.
Bunga memeluk erat Faza.
Jogja malam ini mendukung banget suasanya buat bikin ftv. Banyak adegan
absurtnya. Tak lama kemudian.
Bunga meminta untuk
menepi. Dia memuali pembicaraan. Sedikit gugup. Oke rilex. Tenang. Santai.
Tarik nafas. Siap?
“Gue tadi kentut, jadi
pengen cepet cabut dan sekarang mau cari toilet umum. Lo tau ga di mana?”
“Toilet umum? Yah, di
café tadi ka nada! Kampret lo ah”
“Ga mau. Toiletnya jorok
di tempat tadi”
Perbincangan terhenti
sejenak. Karena ternyata editor salah memasukkan scene.
Ini scene sebenarnya.
Bekicot madu by Anang Batas. ß
harusnya cekidot. Au ah.
“Tadi gue liat matan gue
juga ke café itu, sama mantannya yang dulu. Dia balikan!”
“Ups.. Maaf”
“Gue sedih za. Lo tahu
kan perasaan gue?” Bunga mulai menitihkan air mata.
Adegan romantic mulai
disulut. Bunga memeluk Faza di pinggir jalan, mereka saling berpelukan. Faza
mencoba menenangkan kondisi. Waktu itu jalan lumayan sepi. 11 12 (baca :
sebelas dua belas. Red) lah sama ramenya. Sumpah ini absurd banget. Lebih absurd
dari tournya si Kemal. Kenapa jadi ngomongin Kemal?
Malam semakin larut.
Basane puitis banget kan.
Sejak kejadian itu. Bunga
mulai berpikir dan sering mikir, kalo selama ini dia itu ga pernah mikir. Satu
tambah dua sama dengan tiga, pilih aku apa dia hayo yang mana? Hasyeekk. Puisi tadi
yang barusan dipersembahkan buat Bunga untuk mantannya dan pacarnya yang dulu
juga mantannya yang balik lagi. Susah mencerna kata katanya? Yo wes.
Udah gitu aja ya Surat
Buat Bunga. Ditunggu surat buat yang laen. Orang orang yang ada di sekitar gue
(penulis) baik yang normal maupun yang di atas normal. Baik yang ada maupun
tiada. Baik yang baik maupun yang kurang baik. Baik yang cowo maupun yang cewe.
Baiklah kalo gitu #satuharisatucerita pamit. See u next time gue (penulis)
pamit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar