Guruku
Pahlawanku
“Ya.. beda tipis memang antara belajar dan berangkat sekolah.”
Saya mendengar perbincangan antara Acha dan Tino di kantin kampus. Lebih tepatnya tidak
sengaja mendengarkan obrolan mereka berdua. Saya duduk si meja nomor 11 tak
jauh dari tempat duduk mereka, meja nomor 25.
Ramai sekali sore itu di kantin, pendengaranku sedikit terburamkan
dengan beragam suara yang masuk di telinga.
Sistem pendidikan di
negeri ini memang aneh. Memang aneh. Setiap siswa disuruh belajar segala hal.
Semua dipelajari. Semua dijejali. Semua dimasukin
ke kepala siswa yang tak punya dosa itu. Padahal,
nggak ada orang yang ahli di segala bidang.
Akibatnya sekolah menjadi tempat yang
membosankan. Berangkat sekolah cuma rutinitas. Lebih parah lagi karena terpaksa.
Mereka nggak tahu hakekat belajar Mereka nggak tahu bakat dan potensinya.
Hasil akhirnya bisa ditebak setelah lulus,
siswa-siswa itu nggak bisa Menerapkan
ilmunya di masyarakat. Karena mereka sebenarnya Nggak benar-benar belajar.
Mereka cuma asal berangkat sekolah.
Toh berangkat sekolah saja, sudah dianggap belajar dan disebut-sebut sebagai kaum
terpelajar.
“Ya.. beda tipis memang antara belajar
dan berangkat sekolah.” Tino menegaskan suaranya.
“Tapi, kan ga semua orang berangkat sekolah cuma buat
berangkat. Ada juga yang bener-bener dari hati dan pengen meraih mimpi!”
“Memang ada! Tapi sistemnya itu lho Ca, yang
harus dibenerin! Kamu lihat kan di berita televisi sekarang, atau di
koran-koran, banyak kan yang isinya pada ribut, berantem, tawuran!”
Itulah sebagian pembicaraan mereka yang dapat
saya dengar sore itu.
Menurut saya, Tujuan Pendidikan adalah menciptakan manusia yang bertumbuh kembang secara
optimal sesuai potensinya. Dan sekolah adalah tempat yang dianggap mampu untuk “menggodok”
para siswa agar menjadi manusia paripurna. Tapi, apa yang dilakukan sekolah? Anak-anak
yang tak berdosa itu dikelompokkan, diseragamkan, dan digiring ke sebuah
ruangan yang disebut kelas. Di ruang kedap udara itu siswa dijejali
teori-teori yang menjemukan dan jauh dari realita sosial. Mereka tanpa tahu manfaat
yang bisa diperoleh ketika mereka pulang dan hidup di tengah-tengah masyarakat.
Kurikulum, kata yang begitu dikeramatkan. Boleh diubah, boleh diganti tetapi tidak
boleh dihapus. Ya… Kurikulumlah yang membelenggu siswa. Seperti “Prasasti” yang
mesti dituruti dan dilakukan oleh semua siswa. Padahal, siswa adalah anak
ajaib, unik yang mempunyai bakat berbeda-beda. Dan “anak ajaib” ini bukan
hanya seongok daging dan tulang yang dijejali materi atau teori tanpa boleh
menyeleksi.
Mereka dikaruniai oleh Tuhan akal, hati untuk
mencerna, merasa, mengkritisi dan menyeleksi segala hal yang mereka terima. Lebih
dari itu, mereka juga punya hak untuk memunculkan ketertarikannya, mengutarakan
kecintaannya, dan menonjolkan kecenderungannya. Dan, ketertarikan ini,
kecintaan ini kecenderungan ini secara naluriah telah menuntun
mereka pada pilihan yang akan mereka gapai.
Secara alamiah merupakan “perwujudan” dari bakat
mereka yang masih terpendam. Bakat tidak bisa diukur, diseragamkan atau
dikotak-kotak. Bakat yang bila digali lebih dalam, Ditempa dengan kerja keras pada
lingkungan yang mendukung secara bertahap namun pasti akan menjadikan mereka
manusia paripurna yang bertumbuh kembang secara optimal, LUAR BIASA…!!!
Jadi, masih layakkah kurikulum ditegakkan???
MERDEKA...MERDEKA…
Semangat terus pantang
mundur pendidikan Indonesia. Tanpa kalian, pahlawan tanda jasa, generasi
penerus seperti saya ini tidak ada artinya. Tidak ada senioritas, tidak ada kata,
kami bodoh dan kalian lebih tahu. Yang ada hanya kalian, para guru lebih dulu
tahu dan kami para murid belum tahu. Mari kita sama-sama saling mendukung
kemajuan bangsa dan Negara ini.
Selamat hari guru
nasional 25 November 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar