11.12.2012

Surat Sistem Pendidikan Indonesia

Guruku Pahlawanku

Ya.. beda tipis memang antara belajar dan berangkat sekolah.

Saya mendengar perbincangan antara Acha dan Tino di kantin kampus. Lebih tepatnya tidak sengaja mendengarkan obrolan mereka berdua. Saya duduk si meja nomor 11 tak jauh dari tempat duduk mereka, meja nomor 25.  Ramai sekali sore itu di kantin, pendengaranku sedikit terburamkan dengan beragam suara yang masuk di telinga.

Sistem pendidikan di negeri ini memang aneh. Memang aneh. Setiap siswa disuruh belajar segala hal. Semua dipelajari. Semua dijejali. Semua dimasukin ke kepala siswa yang tak punya  dosa itu. Padahal, nggak ada orang yang ahli di segala bidang. Akibatnya sekolah menjadi tempat yang membosankan. Berangkat sekolah cuma rutinitas. Lebih parah lagi karena terpaksa. Mereka nggak tahu hakekat belajar Mereka nggak tahu bakat dan potensinya.
Hasil akhirnya bisa ditebak setelah lulus, siswa-siswa itu nggak bisa Menerapkan ilmunya di masyarakat. Karena mereka sebenarnya Nggak benar-benar belajar. Mereka cuma asal berangkat sekolah. Toh berangkat sekolah saja, sudah dianggap belajar dan disebut-sebut sebagai kaum terpelajar.

Ya.. beda tipis memang antara belajar dan berangkat sekolah.” Tino menegaskan suaranya.
“Tapi, kan ga semua orang berangkat sekolah cuma buat berangkat. Ada juga yang bener-bener dari hati dan pengen meraih mimpi!”
“Memang ada! Tapi sistemnya itu lho Ca, yang harus dibenerin! Kamu lihat kan di berita televisi sekarang, atau di koran-koran, banyak kan yang isinya pada ribut, berantem, tawuran!”

Itulah sebagian pembicaraan mereka yang dapat saya dengar sore itu.

Menurut saya, Tujuan Pendidikan adalah menciptakan manusia yang bertumbuh kembang secara optimal sesuai potensinya. Dan sekolah adalah tempat yang dianggap mampu untuk “menggodok” para siswa agar menjadi manusia paripurna. Tapi, apa yang dilakukan sekolah? Anak-anak yang tak berdosa itu dikelompokkan, diseragamkan, dan digiring ke sebuah ruangan yang disebut kelas. Di ruang kedap udara itu siswa dijejali teori-teori yang menjemukan dan jauh dari realita sosial. Mereka tanpa tahu manfaat yang bisa diperoleh ketika mereka pulang dan hidup di tengah-tengah masyarakat.
Kurikulum, kata yang begitu dikeramatkan. Boleh diubah, boleh diganti tetapi tidak boleh dihapus. Ya… Kurikulumlah yang membelenggu siswa. Seperti “Prasasti” yang mesti dituruti dan dilakukan oleh semua siswa. Padahal, siswa adalah anak ajaib, unik yang mempunyai bakat berbeda-beda. Dan “anak ajaib” ini bukan hanya seongok daging dan tulang yang dijejali materi atau teori tanpa boleh menyeleksi.
Mereka dikaruniai oleh Tuhan akal, hati untuk mencerna, merasa, mengkritisi dan menyeleksi segala hal yang mereka terima. Lebih dari itu, mereka juga punya hak untuk memunculkan ketertarikannya, mengutarakan kecintaannya, dan menonjolkan kecenderungannya. Dan, ketertarikan ini, kecintaan ini kecenderungan ini secara naluriah telah menuntun mereka pada pilihan yang akan mereka gapai.
Secara alamiah merupakan “perwujudan” dari bakat mereka yang masih terpendam. Bakat tidak bisa diukur, diseragamkan atau dikotak-kotak. Bakat yang bila digali lebih dalam, Ditempa dengan kerja keras pada lingkungan yang mendukung secara bertahap namun pasti akan menjadikan mereka manusia paripurna yang bertumbuh kembang secara optimal, LUAR BIASA…!!!
Jadi, masih layakkah kurikulum ditegakkan???
MERDEKA...MERDEKA…

Semangat terus pantang mundur pendidikan Indonesia. Tanpa kalian, pahlawan tanda jasa, generasi penerus seperti saya ini tidak ada artinya. Tidak ada senioritas, tidak ada kata, kami bodoh dan kalian lebih tahu. Yang ada hanya kalian, para guru lebih dulu tahu dan kami para murid belum tahu. Mari kita sama-sama saling mendukung kemajuan bangsa dan Negara ini.
Selamat hari guru nasional 25 November 2012.

Tidak ada komentar: