Cinta Rasa Cokelat
Ini rasanya beda, meski hanya beberapa
hari, dia seperti telah lama dalam dalam pandangan mata. Begitu cepatnya rasa
sesalku hilang ketika ia ada. Secepat mata memandang, tenteram terasa masuk terlalu
dalam untuk diingat. Begitu teringat namanya, seakan ia nyata di mata dan di
hati. Begitu nyaris sempurna bagiku dalam sebuah pencitraan ini.
sumber: tumblr
Tak tahu apa-apa tentang keluarga di
sana. Sedikit merona di dada untuk menentukan sikap selanjutnya. Pilihan itu
sebenarnya ada, tinggal memilih, antara kanan atau kiri, kalau bimbang pilihan
akan semakin lebar dan tak usah banyak fikir, lurus saja. Besar memang resiko
yang harus diambil dari konsequen ini.
Dahulu kan masalah ibadah itu lebih
utama. Apa itu berarti dalam hal ini. Pelik juga simalakama, nyata di depan
mata. Mengingat situasi yang kurang bersahabat ini. Sejauh ini dirasa sangat
ideal untuk seorang sepertiku. Tapi, duri akan terasa tumpul ketika kita
mematahkan ujung atau membengkokkan sebagian bahkan seluruh paradigma itu.
Bayangkan, gunung Merapi yang sebesar itu bisa berpindah tempat hanya dengan
segelah teh yang kecil ini.
Begitu tak mungkin dilakukan. Apakah
ada kekuatan di balik semua daya yang mengikat ini?
Semangat yang berkobar memang
benar-benar harus se-semangat yang menyala berapi. Tak ada yang tak mungkin
bagiku di dunia sekecil ini. Dengan bagaimana aku menghilangkan kebimbangan
ini. Antara berhenti dan beraksi. Mengeksplorasi yang dirasa bisa dan ada.
Berbuat sesuatu perlu permulaan yang nyata. Mulailah dari kaki kanan sekiranya
begitu. Lanjut yang satunya.
Perlahan gerakkan ke depan secukupnya
itu lebih berarti. Mulailah mengeluarkan kata provokasi diri. Katakan aku butuh
dan perlu kamu. Langkah pertama aman kawan, selanjutnya sedikit rupiah harus
kau keluarkan, ini pengorbanan, untuk minum kopi, cari semangat di dalamnya.
Cobalah fokus pada warna, coba kau lihat selain warna cokelat dan hitam. Apakah
kau menemukannya? Sebutkan dan sampaikan padanya. Sampaikan pesanmu melaui
suara. Setidakya melaui sesobek kertas kalau tak mampu, begitu lebih baik.
Lalu, kau tuliskan yang bertema warna
dulu yang mengandung ketenangan dan rasa bahagia selama ini. Rasakan benar
getaran cintamu. Saya belum merasakannya! Coba sekali lagi agar dia mendengar
apa yang kau ucap mesra. Buat kan juga ia secangkir kopi rasa cokelat. Buatkan
tanpa lama menunggu. Ingat! Perlu kemesraan di dalamnya. Buat ia tergeletak
lemas tak berdaya pada tempatnya. Sedikit kau tambahkan mocca cinta kadabra.
Satria begitu nyata dan ada dalam dada.
Saat ia tak mampu apa-apa, tak sadarkan diri sementara. Kecup dahi manjanya,
tarik jiwa cantik yang membelai. Biarkan malam berlalu. Terangnya lampu belajar
akan menjadi saksi malam itu. Dan suara gemuruh kipas angin tuaku kan menjadi
pertanda bahwa malam itu telah terjadi dan akan terulang kembali, entah kapan?
Biarkan dalam gelimangan selimut merah muda yang memanja dahaga. Jangan katakan
malam telah tiada. Karna sejuknya fajar tiba selanjutnya.
Lambaian burung dari balik kaca sebagai
pertanda pagi akan menyapa dan ia bertanya? Apa yang terjadi semalam?
Cinta ini nyata dan harus direplika apa
adanya tanpa rekayasa sederhana. Katakan sekali lagi. Aku menunggumu di malam
yang berbeda. Tentu dengan nuansa bening yang terasa hingga dawai kan getarkan
rasa kembali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar