12.05.2012

Ciralat


Cinta Rasa Cokelat

Ini rasanya beda, meski hanya beberapa hari, dia seperti telah lama dalam dalam pandangan mata. Begitu cepatnya rasa sesalku hilang ketika ia ada. Secepat mata memandang, tenteram terasa masuk terlalu dalam untuk diingat. Begitu teringat namanya, seakan ia nyata di mata dan di hati. Begitu nyaris sempurna bagiku dalam sebuah pencitraan ini.

sumber: tumblr

Tak tahu apa-apa tentang keluarga di sana. Sedikit merona di dada untuk menentukan sikap selanjutnya. Pilihan itu sebenarnya ada, tinggal memilih, antara kanan atau kiri, kalau bimbang pilihan akan semakin lebar dan tak usah banyak fikir, lurus saja. Besar memang resiko yang harus diambil dari konsequen ini.
Dahulu kan masalah ibadah itu lebih utama. Apa itu berarti dalam hal ini. Pelik juga simalakama, nyata di depan mata. Mengingat situasi yang kurang bersahabat ini. Sejauh ini dirasa sangat ideal untuk seorang sepertiku. Tapi, duri akan terasa tumpul ketika kita mematahkan ujung atau membengkokkan sebagian bahkan seluruh paradigma itu. Bayangkan, gunung Merapi yang sebesar itu bisa berpindah tempat hanya dengan segelah teh yang kecil ini.
Begitu tak mungkin dilakukan. Apakah ada kekuatan di balik semua daya yang mengikat ini?

Semangat yang berkobar memang benar-benar harus se-semangat yang menyala berapi. Tak ada yang tak mungkin bagiku di dunia sekecil ini. Dengan bagaimana aku menghilangkan kebimbangan ini. Antara berhenti dan beraksi. Mengeksplorasi yang dirasa bisa dan ada. Berbuat sesuatu perlu permulaan yang nyata. Mulailah dari kaki kanan sekiranya begitu. Lanjut yang satunya.
Perlahan gerakkan ke depan secukupnya itu lebih berarti. Mulailah mengeluarkan kata provokasi diri. Katakan aku butuh dan perlu kamu. Langkah pertama aman kawan, selanjutnya sedikit rupiah harus kau keluarkan, ini pengorbanan, untuk minum kopi, cari semangat di dalamnya. Cobalah fokus pada warna, coba kau lihat selain warna cokelat dan hitam. Apakah kau menemukannya? Sebutkan dan sampaikan padanya. Sampaikan pesanmu melaui suara. Setidakya melaui sesobek kertas kalau tak mampu, begitu lebih baik.
Lalu, kau tuliskan yang bertema warna dulu yang mengandung ketenangan dan rasa bahagia selama ini. Rasakan benar getaran cintamu. Saya belum merasakannya! Coba sekali lagi agar dia mendengar apa yang kau ucap mesra. Buat kan juga ia secangkir kopi rasa cokelat. Buatkan tanpa lama menunggu. Ingat! Perlu kemesraan di dalamnya. Buat ia tergeletak lemas tak berdaya pada tempatnya. Sedikit kau tambahkan mocca cinta kadabra.
Satria begitu nyata dan ada dalam dada. Saat ia tak mampu apa-apa, tak sadarkan diri sementara. Kecup dahi manjanya, tarik jiwa cantik yang membelai. Biarkan malam berlalu. Terangnya lampu belajar akan menjadi saksi malam itu. Dan suara gemuruh kipas angin tuaku kan menjadi pertanda bahwa malam itu telah terjadi dan akan terulang kembali, entah kapan? Biarkan dalam gelimangan selimut merah muda yang memanja dahaga. Jangan katakan malam telah tiada. Karna sejuknya fajar tiba selanjutnya.
Lambaian burung dari balik kaca sebagai pertanda pagi akan menyapa dan ia bertanya? Apa yang terjadi semalam?
Cinta ini nyata dan harus direplika apa adanya tanpa rekayasa sederhana. Katakan sekali lagi. Aku menunggumu di malam yang berbeda. Tentu dengan nuansa bening yang terasa hingga dawai kan getarkan rasa kembali.

Tidak ada komentar: