9.15.2013

Jekardah

Sebulan lima hari di Ibu Kota NegarA SUlap

Perkenalkan. Buat yang belom kenal atau mungkin ogah buat kenal sama saya dan mengira ini blog tentang apa atau mengajarkan sekte apa. Tunggu dulu tunggu dulu. Ini bukan blog tentang pemujaan terhadap kaleng bekas. Ini juga bukan blog tentang seorang cowok yang ngeluh tentang kehidupan asmaranya yang selalu nampak suram. Bukan. Bukan itu. Ini adalah blog tentang kita. “Kita? Loe aja kali..”
“Kenalin, nama saya Bagus Setiawan, panggil aja Smith.” Menjulurkan tangan.

Saya seorang mahasiswa broadcasting di Jogja semester lumayan banyak. Beberapa minggu lalu, saya melakukan kegiatan praktik yang kampus saya bilang, “Kerja Praktik” guna persyaratan kekelulusan kampus. itu artinya saya dan teman-teman saya yang lain harus mengikuti proses kerja praktik ini.
“kebetulan” saya mengambil tempat kerja praktik di salah satu stasiun penyiaran nasional di Jakarta, kota yang keras men, asal loe (Jakartanya kambuh men) tahu. Di kota ibu ini, saya tinggal hampir sebulan lamanya. Dan, inilah cerita saya.

==

Guna memenuhi persyaratan lulus di kampus tempat saya menuntut ilmu, Multi Media Training Centre atau Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta, The Centre of Excellence. Saya dan teman saya satu angkatan harus menjalani program Kerja Praktik di dunia industri penyiaran.
Beberapa bulan sebelum saya melakukan kerja praktik, saya dan teman yang lain yang ingin mengajukan kerja praktik di berbagai lembaga penyiaran di seluruh Indonesia telah melakukan pengurusan perijinan perihal kegiatan ini. saya sendiri memilih metrotv sebagai tempat menambah ilmu. Saya bersama teman yang lain, berjumlah (awalnya) dua belas orang sudah memasukkan berkas kepada bu Lila, sebagai penyambung antara kami dan metrotv. Setelah sebulan menunggu, sesuai jadwal, harusnya kepastian diterima atau tidaknya sudah harus kami dapatkan. Namun, rencana hanya sebatas usaha, Tuhan tetap yang menentukan atas semua usaha manusia.
Mahasiswa pencari suaka yang berjumlah awalnya dua belas orang itu sempat mengalami kegelisahan, karena semakin dekat masa kerja praktik namun belum juga menemukan kepastian. Inilah yang menyebabkan setengah dari pencari suaka ini memindahkan haluannya ke media penyiaran lain, seperti mnctv, tvri Jakarta, dan beberapa stasiun penyiaran lain.
Dua minggu setelahnya, pihak metrotv akhirnya mengeluarkan hasil sidang pleno, apakah para pencari suaka berhak diterima atau tidak. Dan hasil dari keputusannya adalah, diterima. Namun, hasil inipun dinilai terlambat oleh beberapa pencari suaka, karena sebagian dari mereka ada yang sudah mencari tempat kerja praktik lain. Sedih. Jumlah kami berkurang.

Naik kereta api
Terakhir naik kereta api itu, kalo nggak salah *mikir bentar* kelas *lupa* SD. Lama banget pokoknya. Dan sekarang saya udah kuliah semester banyak. Tentu kenangan-kenangan pas kecil naik kereta api hampir terlupa dan enggak bisa saya ingat. Yang masih terngiang di telinga hanya, suara kereta api itu, “tutt tutt’’ selebihnya terlupa.
Dengan modal ingatan masa kecil itu, saya memberanikan diri untuk berangkat ke Jakarta dengan naik kereta api malam hari dan sendirian, saya ulang sekali lagi, s endirian.
Berangkat dari stasiun Tawang, Semarang malam hari pukul 9 malam hingga Gambir Jakarta pagi hari itu penuh was-was, antara nahan pipis sama ngejagaain barang bawaan yang saya taruh di atas, *nggak tahu namanya apa tempat buat naruh itu* ini dikarenakan dogma-dogma aneh yang saya dengar sebelum berangkat dari temen, kalo di atas kereta itu sering terjadi pencuriaan barang bawaan, dari sini saya sudah kena dogma yang belum tentu kebenarannya. Naïf.



Naik babaj di Jakarta
Setelah bertahun-tahin hanya bisa melihat angkutan umum bernama bajaj dari serial “Bajaj Bajuri” dari layar kaca, kini saya bisa melihat dan merasakan menaikinya.
Banyak anggapan sinis tentang angkutan umum asal negaranya Shah Rukh Khan ini, India. Katanya eh katanya, 90% sopir bajaj di Jakarta itu kadar pendengarannya turun akibat suara knalpot bajaj yang terlalu keras. Saya nggak percaya dong.
“Bang, ke Kayu manis, Matraman ya..” ujar saya memberi alamat tujuan.
“Ha? Manis? Makasih mas, saya emang manis.”
“Kayu manis, Matraman, Jakarta Timur..”
“Oh, Kayu manis..”
“Kayu manis nomor dua ya bang.”
“Kayu manis tiga…”
“Dua bang, duaaa…” kemudian nyanyi sarimi isi tiga dua.

Baiklah, untungnya mereka cuma mengalami penurun pendengaran, nggak apa-apa. “Pelan-pelan ya bang jalannya..”
“Wuuussshhh…” manuvernya keren coy, ini kalo Raikonen mampir Jakarta dan diajak balap bajaj, saya sudah tahu siapa jawaranya.


Nginep di tempat omnya Aceh, ketemu Farhan, Azka, Rajul
Turun dari bajaj, saya udah disambut sama Aceh. Aceh adalah nama teman kerja praktik saya di metrotv. Dia bertipikal tinggi dan belum meunjukkan gelagat aneh, hingga sejauh ini saya mengenal dia.
Sampai di rumah omnya Aceh, sekitar jam 4 pagi saya langsung meletakkan hati di pundak mantan badan di atas tubuh kasur dan cus tidur. Alhamdulillah hari itu saya puasa penuh hingga waktu berbuka.




Masuk kape dinasihatin pak Karyo karena tidak mematuhi peraturan
Baiklah, status saya saat ini sebagai fakir kerjaan. Ga punya program yang bisa ditempati, lebih tepatnya nggak ada yang mau menerima saya. Lontang-lantung di pinggiran grand lobi, melihat orang yang berseliweran, serta menghitung banyaknya cewek cantik yang lewat.
Saya merasa telah gagal sebagai mahasiswa broadcasting. Saat ini program 8-11 sedang berlangsung di grand lobi. Sesekali saya melihat kerumanan orang di seberang sana yang sedang syuting program pagi itu. Tidak, di sini nggak pake penonton alay, di sini penontonnya normal semua.
Di kejauhan saya melihat sosok bapak tua, sepertinya saya kenal. “..Itu pak Karyo, kepala studio di sini..” bisik saya dalam hati. Sayapun segera menghampirinya untuk meminta kejelasan tentang di mana saya akan di tempatkan selama proses kerja praktik ini.
Dengan langkah berat saya mencoba sekuat tenaga menggerakkan kaki menuju pak Karyo. Pak Karyo sendiri, selintas orang yang galak, rambut bagian belakangnya yang panjang semakin mengukuhkannya kalau dia memang orang yang mempunyai watak keras, cadas dan @tanpabatas_. Saya sedikit merinding, bukan karena pak Karyo, tapi karena di sini memang dingin, terlalu banyak pendingin ruangan. Dan saya tidak kuat dengan itu.
Bapak tua itu sudah di depan mata saya. Hanya saja posisinya masih membelakangi saya. Jadi, saya harus membalik mukanya menghadap 180 derajat ke saya. “Siap grak, balik kanan grak.” Harusnya saya memberi arahan itu padanya. Belum sempat saya mengatakan yang seperti itu, dia sudah membalikkan badannya sendiri. Bisa saja dia merasa risi dengan bau pesing yang secara mendadak tercium di dekatnya. “Pak, Karyo..” saya mendahului pembicaraan, “Anu pak, anu bapak.. maaf pak, ini, saya anak yang lagi kerja praktik di sini dari Jogja, dan baru masuk kemarin.. kira-kira saya hendak ditempatkan di mana ya pak?” tutur saya sedikit menundukkan kepala ke bawah.
“Kamu siapa?” Jleb.
“Anak yang kerja praktik di sini, pak.. kira-kira saya mau ditempatkan di mana ya?” saya terpaksa mengulangi pertanyaan saya dengan terpaksa.
“Kamu anak yang kerja praktik di sini?” nadanya meninggi, “Taatin dulu peraturan di sini kalo lagi kerja praktik.” Jlebnya sampai dua kali. Terasa menusuk hatiku yang sudah terlanjur remuk setelah diputus pacar. Duhdek.
Kebayang nggak dikatain begitu. Sedih hatiku. “Pulangkan saya segera, mak… pulangkan!”
Ini memang salah saya. Bertindak semena-mena dengan tidak menaati peraturan yang ada di sini. Yaitu bagi semua anak yang menjalani kerja praktik harus memakai pakaian putih hitam, sedangkan saya saat itu kalau kalian boleh tahu; hitam di bawah dan kaos polo warna hijau, namun rangkap jaket. Apapun bentuk kesalahan itu, tetap saja nggak boleh ditolelir. Hari inipun diselimuti, saya masih belum dapat tempat bernaung, berupa program acara.
Sejak awal saya memilih tempat magang di metrotv pun sudah menjadi kesalahan bagi saya. Bukan karena metrotvnya, melainkan, metrotv adalah sebuah stasiun pertelevisian yang menganut sistem news, dengan Knowledge To Elevate, entah apa itu artinya, sampai saat ini saya belum ngerti. Nah, sedangkan saya seorang mahasiswa broadcasting yang menganut sistem produksi berbasis Jogjak-art-a. Oposih. Saat sebelum masuk di metrotv, dalam benak saya selalu muncul anggapan, di manapun sistem produksi acara itu pasti selalu memerlukan anak art produksi dalam proses produksinya. Benar. Namun, di sini sangat sedikit memerlukan pada bagian produksi, ada sih ada, mungkin tidak sesuai dengan minat saya, dari hasil survey yang saya lakukan sendiri, beberapa anak yang sudah kerja di sini terlalu memaksakan diri dengan tidak mengikuti kata hatinya. Missal; dia tertarik pada bidang film namun masih saja memaksakan untuk masuk tim pemberitaan. Dan sebagainya.
Bisa dipahami. Metrotv juga nggak semua tayangannya menganut system pemberitaan, ada juga beberapa program non berita yang mereka punya. Missal; standup metrotv, sentila sentilun, serta beberapa program lain. Lagi-lagi, perbedaan minat dan masalah individualisme program yang menghalangi kesemua itu. Tapi, nggak apa. Untuk saat ini saya masih bisa ikut ngurohi di studio satu sebagai production support.

Ketemu bang alumni
Senang bisa bertemu kakak alumni dari kampus saya yang sudah bekerja di sini.
“Selamat datang di studio tiga metrotv..” ujar pak Karyo pada kami, gerombolan anak kerja praktik metrotv yang berjumlan enam ekor. “Untuk lebih lanjutnya, kalian sementara ini saya serahkan ke mas yang satu ini. kalau ada apa-apa silahkan bertanya, jangan malu-malu.” Pak Karyo kemudian meninggalkan kami.
“Hei.. anak kerja praktik dari mana?” sapa pria dengan tinggi hampir sama dengan saya.
“Kami dari MMTC mas..” jawab salah satu anak kerja praktik dari kami.
“MMTC itu di mana?”
“Jogja mas..” kami serentak menjawab, kecuali saya.
“Oh. Ayo duduk dulu, cari kursi di sana..” pria dengan jaket melekat di badannya ini sangat lembut tutur katanya. “Jadi kalian mau ngapain di sini?” pertanyaan standar yang pria ini ajukan menghentak kami.”
“Ya belajar cari ilmu mas, kalo bisa sih sekalian cari jodoh.” Kami kembali tertawa kecil.
“Kalo masnya dulu lulusan mana?”
“Eh, kita belom saling kenal ya?”, “Hehe.. maaf-maaf. Nama saya, Nando. Panggil aja, Nando.” Mengalihkan isu.
“Hemmm.. sama aja kali mas.” Kemudian kami saling menyebutkan nama dari kami masing-masing satu persatu.
“Masnya belum jawab e, masnya lulusan mana? MMTC ya.. kok dari tadi senyam-senyum mas.”
“MMTC itu apa?”
Halah.. ga usah pura-pura deh mas, masnya MMTC kan, angkatan tahun berapa mas?”
“2006” semua kembali tertawa riuh.
“Aku dulu jurusan Manaprodsi kok.” Mas, Nando akhirnya mengakui kedoknya.
“Aku blab la bla, aku blab la bla..” hingga semua meyebutkan dari jurusan masing-masing di kampus.

Obrolan singkat di antara kakak senior dan junior memang selalu asik untuk disimak. Bahkan, ada beberapa kasus percintaan yang terjadi di antara kakak dan asik kelas memang selalu menyimpan cerita. Pernah ada yang menafsirkan, kalo percintaan di antara kakak dan adik kelas adalah percintaan yang paling romantis.
Beberapa informasi tentang metrotv sudah kami dapat dari mas, Nando. Begitu juga kabar terbaru dari kampus yang ingin mas Nando ketahui juga sudah kami sampaikan.
“Kalo mas, Nando di sini jadi apa mas?”
“Aku, aku cuma penggulung kabel di sini.”
“Udah berapa lama di sini mas?”
“Baru, satu setengahanlah. Baru bentar.”
Obrolan terus berlanjut hingga salah satu mulut teman kami berbusa terlalu banyak ngomong.



Nyasar ke Cileduk, Tangerang
Niatan mau nganter temen satu kamar, Aceh, ke karepur buat nyari perlengkapan mandi berbuah manis. “Kita naik angkot nomor berapa, Ceh?”
“Nanya orang aja deh, gue juga nggak tahu.”
Buat pembaca di rumah atau di manapun pembaca berada, semoga gusti Allah masih memberi nikmat berupa keimanan, keislaman, dan keihsanan pada diri pembaca semua. Jarak kosan saya ke karepur itu kurang dan kurangnya hanya tiga kilo lebih dikitan, namun entah kenapa, saat saya dan Aceh nanya ke orang tentang karepur terdekat, inilah jawabannya. “Kalo nyari karepur terdekat, saya harus naik angkot nomor berapa ya, buk?” cara bertanya kamipun sungguh ramah, bahkan semua gigi kami sudah dikeluarkan untuk memberi kesan bahwa kami benar-benar ramah. Namun, si ibu menanggapi kami sebagai penjahat bermuka gigi semua. “Naik nomor 69 mas.” Jawab ibu di pinggr jalan itu dengan muka ketakukan dan seketika ibu itu langsung dilarikan ke rumah sakit jiwa terdekat.
Inilah kenyataan dan sebenarnya kejadian. Nomor 69. Pasti ada yang salah. Kami pun langsung mengikuti arahan berdasar informasi yang diberikan ibu itu. Angkot di depan sudah semakin dekat, dengan nomor angkot tertera di pojok kanan atas kaca depan. Angkot sudah penuh sesak dengan penumpang yang sebagian ibu-ibu. Kami tak mungkin melewatkan ini, hari sudah sore. Kalo kami menunggu angkot berikutnya yang sepi maka, itu mustahil di jam pulang kantor seperti ini.
Naik angkot yang sepi di jam seperti ini itu sulit, sama halnya mencari pacar yang nggak pernah dimasuki hatinya oleh orang lain. Semua angkot pernah dimasuki oleh banyak orang, kita memang harus dan terpaksa masuk ke angkot tua itu. Sesak dan menjijikkan. Bahkan, teman kita sendiri pasti pernah menaiki angkot itu. Kadang juga, pas masuk angkot itu, kita sering berebutan dengan teman sendiri demi mendapatkan tempat terindah dan empuk, meski hanya sementara saja kita menaikinya. Lupakan angkot yang pernah dinaiki orang atau dinaiki teman sendiri, yang penting kita bisa sampai tujuan dengan angkot itu, atau tidak sama sekali. Kalo mau yang bersih ya, jalan kaki.
Lupakan angkotnya. Kami sudah sepuluh menit di angkot, keringat sudah mengalir dari jidat kami. “Kok belum nyampe ya, Ceh?”, “Au ah.. nyasar kali.”
“Turun aja yuk.”
“Okeh.” Dengan mudahnya, Aceh mengiyakan ajakan saya.
“Kita di mana nih? Kayaknya harus naik angkot lagi deh.” Sekali lagi, dengan mudahnya, Aceh mengiyakan ajakan saya. jatuh di lubang yang sama.

penampakan waktu nggembel ke Cileduk, Tangerang


Pindah program karena produsernya baik
Dua hari sejak masuk kerja praktik, saya masing berstatus gembel kota. Luntung-luntung tak tentu arah dan tujuan hidupnya mau dibawa kemana. Program acara belum dapet, jodoh apalagi. Hah, sedih hati saya.
Waktupun banyak saya habiskan di studio satu. Merenung, melamun, dan memikirkan bagaimana nasip bangsa ini selanjutnya. Hambalang belum kelar, century apalagi, cicak buaya?
Ini bagaimana dengan nasip saya? Di mana saya mau ditepatkan?
Di saat seperti inilah, saya benar-benar membutuhkan adanya seorang teman curhat, berbagi kasih serta berbagi nasi bungkus. So romantis. Hanya bisa melamun, melihat, dan mengawang-awang Sumi Yang dan Robert membawakan program Wide Shot. Mereka berdua nampak serasi, cocok.
Di hari ketiga, sayapun mencari kepala studio tiga, pak Mamad, guna meminta masukan program. apakah jomblo atau berpacaran? Betul, setelah menemui pak Mamad, beliau menganjurkan agar masuk di program yang tayang mulai pukul 1 siang hingga 5 sore itu. “Kamu langsung aja ya temuin mba, Rene. Produsernya, itu dia yang pake jilbab biru..”, “Baik pak..” timpalku seraya berterima kasih. Segera saya menghampiri mba Rini, seperti yang diinformasikan pak Ismed.
“Mba, Rene?”
“Iya, ada apa?”
Percakapan singkat mulai terjadi.
“Ini mba, bla bla bla, blab la bla lba, bisa kan mba?”
“Bisa aja, ikut aku ya..” mba Rene mengantarkanku pada jalan berliku dan mendaki gunung, menuruni lembah. “Anggi, aku nitip ini anak ya, dia dari planet ke tiga, dia mau magang di sini.” Saya masih melihat percakapan di antara mereka, “Kamu, ini mas Anggi, kamu sementara ikut dia ya, makasih ya Anggi..” mba Rene pergi meninggalkan saya dan mas Anggi berdua dalam ruangan yang ramai, grafis room.
Karena saya masih baru dan berstatus anak kemarin sore di sini, jadi job describtion saya juga belum tentu alias masih dalam tahap observasi dan nanya-nanya aja. misalnya; “Oh, jadi ini yam as yang namanya computer? Kalo ini namanya kipas angin kan mas? Kalo ini apa mas, bolpoint kan?” pertanyaan-pertanyaan berat seperti itulah yang saya tanyakan terus hingga hari ini mulai meredup. Hari ketiga saya lalui dengan bahagia.
Hari ke empat. Setelah beberapa kali, saya mampir juga di news room lantai dua pukul 9 pagi. Saya dihadapkan dengan sebuah layar yang saya tahu namanya di kemarin hari, bahwa ini adalah computer 14 inci dengan warna-warni darinya. “Apa yang harus saya lakukan?”
“Kamu anak magang baru ya..” tanya Adul, anak magang juga. Namun, dia sudah sebulan lebih dulu dari saya. Kami pun bersalaman sambil betukar nama. “Jadi, hari ini kita ngapain?” saya masih bingung dengan apa yang harus saya kerjakan.
“Kita riset aja dulu. Kamu juga harus tahu dulu tentang program Wide Shot itu apa, serta visi dan misinya. Jadi begini. Pada suatu hari, si blab la bla bertemu blab la bla dib la blab la…” saya masih menyimaknya dengan seksama, “Udah ngerti kan?”
“Sudah. Sudah kelar ngejelasinnya?” jawab saya.
Hari ini saya lewati bersama, Adul. Senang susah dan canda tawa. BHahaha. Hingga pada suatu tahap tukar informasi itu, Adul menyuruh saya buat menirukan apa yang telah dia perlihatkan pada saya. “Coba deh, kalo lakukan apa yang udah saya contohkan tadi.” Bukan-bukan. Adul tidak mencontohkan saya bagaimana cara memanjat tower sutet, tapi dia mencontohkan saya bagaimana cara megirim data ke seluruh team.
Dengan sigap saya mengambil alih computer yang sejak tadi dikuasai Adul, bukan pelantun single Someone like you.
“Itu mah gampil gampil gampil gampil…” sambil meyelentikkan jari seperti apa yang dilakukan Noval di Sketsa Comedy teve sebelah. “Tadi begini kan, begitu kan, begono kan, dan SEND.”
“JANGAN DIKIRIM!!!” Adul bernada setengah teriak.
“Lha kan tadi juga disend?”
“Ya, tapi ini jangan. Wah, bisa kena marah ini, ya udah lah.. kita lanjut aja..” muka Adul Nampak lesu dan lemah tak berdaya.
Saya masih belum mengerti dengan peristiwa barusan. Kenapa saya tidak diperbolehkan meniru apa yang sebelumnya dia contohkan. Kenapa dia melarangku? Apa yang barusan saya lakukan dilarang agama dia? Saya merasa berdosa telah mengotori ajaran Adul. Saya berdosa, saya harus mandi besar sekarang. Adul, maafkan saya.
Saya masih mengikuti petuah-petuah yang Adul beri. Waktu masih berjalan. Dan dari arah jam 12 saya melihat ada sosok perempuan berkerudung berjalan seperempat berlari menghapiri kami berdua. Sepertinya saya kenal dia. “ADUL, TADI SAYA PERINTAH APA? JANGAN KIRIM EMAIL KE SELURUH TEAM, KAMU UDAH BOSEN DI SINI?”, “Iya mba, tapi…” Adul menundukkan kepala sambil melihat dadanya sendiri yang nampak rata.” Lupakan.
“NGGAK ADA TAPI-TAPIAN.” Adul hanya bisa mendengarkan tanpa bisa membalas perkataan mba Rene. Sama seperti dalam hubungan berkekasih tangga. Kadang, pihak cowok atau ceweknya lebih dominan tanpa memberikan ruang bagi lawan pasangannya memberikan pendapat untuk menuangkan ide dan konspirasi kebebasan, serta statusisasi kemakmurannya. Harusnya ini nggak boleh terjadi.
Sementara itu, di sudut yang lain, saya hanya bisa melihat kejadian itu. Tanpa bisa membela atau memberi pendapat. Adul kena marah mba produser, mba Rene hanya memarahi Adul, bukan saya. Karena mba Rene sudah menyerahkan ke Adul untuk mentransfer ilmunya pada saya hari ini, padahal ini salah saya, saya merasa bersalah.
Kemarahan mba Rene sudah sedikit mereda, mba Rene beranjak pergi menjauh dan, hilang ditelan lantai anak tangga. Saya hanya bisa memberi free puk-puk buat Adul. Suasana tegang. Saya ikutan tegang, melihat dada Adul yang datar. BHahahaha.

Maen-maen ke perpustakaan Media Indonesia
Kalo ada waktu lenggang, saya sering maen ke perpustakaan Media Indonesia. Kebetulan MI kantornya sebelahan dengan Metrotv. Di sini setiap hari, korannya selalu diperbaharui (yaiyalah). Dari sinilah saya mendapat informasi baru yang menarik dan menghibur hati, karena di kosan nggak ada teve.

beberapa karya yang saya temukan di perpustakaan Media Indonesia






Ada yang masih belom tahu Monas itu nama apa? Atau monas itu di mana?
Inilah yang saya alami saat baru pertama kali ke Jakarta, sekitaran kelas empat sekolah dasar. Saat kereta yang saya tumpangi dan keluarga sudah masuk stasiun Gambir Jakarta, Ayah saya berucap, “Itu itu, Monasnya..”, saat itu saya masih belom ngerti Mona situ apa hanya bisa melongo dengan penuh pertanyaan di kepala, “Endi endi (mana-mana)??” padahal Monas sudah di depan mata saya. Waktu itu, saya mengira monas adalah sebuah nama daerah, bukan sebuah bangunan. Dan kalian tahu sendiri ngerti kan, tahun 2000an di Jakarta gedungnya udah banyak dan tinggi. Mata saya hanya terfokus dengan kekaguman kota ini yang mempunyai bangunan setinggi itu.
Sesampainya keluar kereta api, pertanyaan saya tentang Monas masih terngiang, “Pak, Monase endi?”, ayah saya hanya bisa menimpali, “Itu lho, bangunan sing duwur, ono emase ning duwure (Itu lho, bangunan yang tinggi, yang ada emas di atasnya).”, “Oh.” Gitu doang jawab saya. Dalam hati, Monas ternyata cuma bangunan yang kurus, ah nggak menarik.
Bahkan sampai saat ini pun saya belum pernah masuk ke Monas. Pertanyaan yang saya bawa di masa kecil masih akan menjadi misteri sampai kapan, saya juga tidak tahu. Setiap ke Monas, mulai dari masa kecil itu sampai beberapa kunjungan yang terakhir, Monas selalu tutup. Dan gibliknya, saya selalu mengulangi kesalahan yang sama setiap hendak mau ke sana.
Setidaknya saya sudah tahu kalo nama Monas situ kependekan dari kata Monumen Nasional, dibuat guna mengenang jasa pahlawan dalam melawan penjajah.


Naik busway
Sejak diresmikan di Jakarta pada tahun 2001, Jakarta punya angkutan umum baru. Bus trans Jakarta sendiri meniru angkutan massal yang ada di Bogota, Kolombia. Kalo sebelumnya saya hanya bisa melihat busway dari teve, kini saya bisa melihatnya secara langsung dan ingin mencobanya. Dalam benak saya, kalo naik busway itu, adem, bebas macet, dan nggak berdesakan. Selain hal itu yang menjadi pertanyaan dalam pikiran, saya juga ingin mencoba (menaiki) busway, saya juga ingin melihat, apa benar di sini sering terjadi pelecehan sexual. Seperti apakah itu? Hahahahahahahaha.

maen ke Kota Tua Jakarta

di museum Fatahillah nemu beginian

stasiun Jakarta Kota men


Nggak ada tv di kos
Mahasiswa jurusan broadcasting tapi nggak pernah nonton teve, mahasiswa pertanian tapi nggak pernah ke sawah, mahasiswa perikanan tapi muka nggak mirip ikan.
Memang bukan suatu keharusan, seenggaknya harus meluangkan waktulah untuk nonton tv. Kebayang nggak, anak perikanan pas suruh nyemplung ke laut buat nangkep ikan tapi dianya nggak bisa renang. Kebayang nggak anak pertanian disuruh nanem padi di sawah tapi dianya takut lintah tanah yang basah dan menjijikkan. Pertanyaannya, apa anak perikanan harus bisa renang dan anak pertanian harus bisa nanem padi, nggak kan. Jadi, bisa dimaklumilah kalo saya anak broadcasting tapi jarang nonton teve selama di Jakarta.
Moment penting saat nonton teve ya cuma lagi di kantor, di sanalah tempat beta satu-satunya buat nonton teve, selain di warteg dan di warung padang. Itupun tontonannya harus mengikuti selera empunya warung makan. Dan kalian semua udah tahukan kalo lagi makan di warteg ato warung padang mereka pada nonton apaan? Nggak jauh-jauh sama dunia sinetron yang menjemukan dan menutup realita masyarakat kita.

Ketemu Akbar di pinggir jalan
Siapa itu Abar? Buat yang belum tahu dan hendak mencari tahu siapa dia, silahkan follow akun twitternya @akbar___
Sekadar tambahan, Akbar adalah juara dua standup comedy kompas tv season pertama. Dan saat ini muka Akbar masih sering menghiasi layar kaca teve kalian sekitaran kompas tv dan sekitarnya. Monggo disimak. Niatan mau mencari takjil buat buka di sekitaran Kebon Jeruk eh malah ketemu temen. Pas lagi asik berdiri ngantri buat beli bubur, saya melihat di seberang ada kerumunan orang yang sedang diwawancarai sambil membagi-bagikan uang dua puluh ribuan, hahay, ide kere saya muncul. Pura-pura nyamperin di kerumunan dan sok kenal, “Mas Akbar.. apa kabar?” jabat tangan mas Akbar di sela taping bagi-bagi rejeki programnya.
“Iyaaa.. siapa ya?”
“Ini mas, penggemarnya mas Akbar.. standup standup mas..”
“Ohya Ohno…“ di antara jeda, “eh ntar aku tanya-tanyain ya..”
“Nggak ah mas, malu..”
“Ntar gua kasih duit deh, plus masuk teve..”
“Yoilah nak ngono.” Saya menyepakati tanpa pikir panjang dan pikir kantong.
Mungkin dari beberapa di antara kalian ada yang melihat hasil rekaman saya di teve pas bulan Ramadhan kemarin di kompas tv menjelang buka. Semoga saja, karena lewat media inilah salah satu cara saya bisa masuk teve, selain lewat program kriminal di ercetei.



Beli sepatu baru, rekor sepatu termahal yang pernah saya beli
Memang belum melebihi transfer pembelian Cristiano Ronaldo dari Mancheter United ke Real Madrid ataupun pembelian Gareth Bale dari Totteham ke Real Madrid. Setidaknya kucuran dana yang saya keluarkan guna membeli sepatu ini cukup menguras kantong orang tua dan hati. Sepatu dengan mereka yamato ini adalah produksi Singapore. Untuk mendatangkan sepatu ini memerlukan perjuangan yang lumayan berat, terlebih harus dipesan tiga minggu sebelum pembelian. Tidak bisa sembarangan, langsung datang ke toko dan memesannya. Ih, sombong banget saya yak? Padahal itu sepatu dibeli dipasar dekete daerah Slipi dengan harga tak lebih dari 50ribu.

Lebaran pertama di negeri orang
Banyak sebagian dari kita, perantau di Jakarta merela-relakan pulang di hari lebaran buat bisa kumpul sama keluarga di rumah, makan kupat, ketemu temen kecil, ketemu mantan. Hah, ini malah saya dua minggu sebelum lebaran pergi ke kota orang dan nggak balik di harinya mba Fitri. Sedih.
Pihak di mana saya kerja praktik pun nggak memberikan cuti libur lebaran bagi para praktikannya, termasuk saya. Idul fiitri saya lewati dengan bertugas di masjid Nursiah Daud Paloh. Live report. Di sana saya melihat kumpulan remaja berbondong ke masjid guna menunaikan sholat Ied. Bersama keluarga, dengan sajadah di tangan, melangkahkan kaki menuju rumah gusti Allah. Sedangkan saya masih menarik kabel sepanjang satu kilometer melewati mereka yang sedang dalam barisan sholat. Ngenes.
Sepuluh menit lagi sholat Ied akan dilaksanakan, saya masih memegang kabel dalam roll untuk ditarik, bentar lagi selesai. Hingga akhirnya saya bisa mengambil air wudhu untuk dibasuhkan ke pada seluruh tubuh, aha.
Kebiasaan sebelum sholat Ied pas di rumah selalu makan makanan yang dibikin ibu, entah opor atau masakan lain. Namun, di sini sebelum sholat Ied, saya menggulung kabel dan belum makan. Dan sesudah sholat, saya selalu makan lagi saat sampai rumah, dan lagi-lagi di sini saya masih harus menggulung kabel yang mana tadi telah saya tarik panjang-panjang dan belum waktunya makan juga. Proses uninstall bentar lagi selesai. Keringat sudah mengalir dari ujung kepala saya yang diterangi indahnya mentari di hari fitri. Sekitar pukul 10 pagi. Saya melepas kancing di kedua lengan baju kanan dan kiri, serta pada dada saya untuk memberi sedikit ruang bagi angin membelai tubuh dengan anginnya. Udara sudah sedikit masuk mengisi perut saya, setidaknya ada yang masuk dan mengisi kesedihan hati saya.
Tugas di hari suci sudah selasai buat hari ini. Nasi kotak bertumpuk di meja depan pengamanan masjid. Kru hari ini sudah ada yang meninggalkan tempat untuk bersilaturahmi dengan keluarga terdekat. Beberapa ada yang menikmati nasi kotak dengan bersilah di lantai keramik, sebagian sisanya sambil duduk-duduk di kursi kayu, termasuk saya dengan nasi kotaknya dan secerca harapan serta doa untuk meminta maaf di hari raya bagi semua. Saya masih teringat kalau saya belum mengucapkan kata maaf pada orang tua di hari raya, seperti yang saya lakukan tiap tahunnya. Saya memang belum melakukannya, biasanya saya melakukan itu sehabis sholat.
“…Mohon maaf lahir batin buk, pak…” saya tidak sesenggukan saat menelpon ayah, hanya sedikit airmata yang menetes dan selalu terusap dengan lipatan baju di lengan.

setidaknya bisa ketemu pak Surya Paloh


Aceh balik Aceh
Bulan suci sudah lewat, Hari Raya sudah dijalani. Kini waktunya Aceh balik ke kota asalnya, Aceh. Tugas kerja praktik bentar lagi selesai. Sementara saya masih ada beberapa hari di metrotv. Saya kesepian di kos. Menjelang akhir kerja praktik inilah, saya baru tahu kalo Aceh itu anak latah gerak. Ah telat. Coba kalo dari dulu-dulu saya tahunya, kan enak tuh buat hiburan. :D

Aceh di Ups Salah Trans7



Kasih yang harus disampaikan.
Terimakasih buat Bapak atas dukungan doa dan kiriman dana.
Ibu, terimakasih atas doa dan suara merdu di hari raya, walau cuma saya dengar dari balik telepon.
Terimakasih buat tempat-tempat yang udah saya datengin buat minta makan gratis. Omnya Aceh di Matraman, Jakarta Timur. Omnya Aceh di Cileduk, Tangerang. Adik dari Kakeknya Aceh di Jakarta Barat. Terimakasih atas makan gratisnya sekali lagi.
Buat produser yang sangat baik hati sekali, yang juga programnya saya tumpangi, Valiano Lodewij Martin Hutabarat. Produser eksekutif sekaligur pembawa acara program Metro Sport, Bung Boy Noya.
Temen temen studio satu yang dipimpin pak Ismed.
Temen-temen yang dipimpin pak Arga.
Produser StandupComedy MetroTV yang sempat saya kira orang make up dan wardrobe, ternyata dia ibu produser. HAHA maaf buk saya nggak tahu, bahkan sampai saat ini nama ibu siapa. Tapi, saya nggak akan pernah lupa wajah dan peristiwa itu. Kiss jauh ya ibu.
Terimakasih, tak lupa buat dua teman saya di Jogja yang merelakan waktu luangnya guna mau dititipi buat bayar registrasi dan uang SPP; Tifa dan Tino.
Aceh, terimakasih. Teman-teman sesama kerja praktik di Metro TV Jakarta 2013; Fadlan, Febri (Matekstosi), Tika, Sari, Ge (Manarita).
Makasih ya Isna, atas ML (makan lontong) di hari raya di kosanmu.
Si Alif juga, makasih udah dateng ke kosan. Maaf, saya dan dan Aceh nggak bisa menyambut dengan buah-buahan dan minuman yang segar. Cuma air putih yang bisa kami sebagai tuan kos sediakan. Tapi, senyum kami sudah cukup kan, Lif?
Terima kasih Metro TV atas kesempatan kerja praktiknya.


*beberapa nama dan tempat menggunakan nama ganti guna melindungi identitas asli atas kemauan narasumber, selebihnya alur cerita mengalami sedikit penyesuaian estetika masyarakat di Negara ini, namun secara garis besar tidak merubah alur cerita. Saran dan kritik yang membangun bisa masuk di live comment. mohon maaf kalo banyak typo J

Tidak ada komentar: